mau tau notulen versi eke dengan bahasa gaul dan tata bahasa itet maritet yang cukup bergaya ala kesopanan tingkat tinggi?? this is it....
BERITA ACARA
Acara :Pemberdayaan Masyarakat , Jender, dan kemiskinan Program Percepatan Sanitasi Permukiman (PPSP)
Hari, Tanggal : Sabtu, 12 juni 2010
Pukul : 10.00-12.00 wib
Lokasi : Trimurti, Gunung Saren Kidul, Bantul
Dihadiri : 31 orang (Terdiri dari warga setempat dan dari kantor)
Susunan Acara: 1. Pembukaan
2. Sambutan dari pengurus desa setempat oleh bapak Sutrisno
3. Sambutan dari Bappeda Bantul: Bapak Hari
4. lain-lain
Isi acara 2 :
Gunung Saren Kidul terkenal dengan pengrajin tahunya. Namun kendalanya dalam pemasarannya. Beberapa waktu lalu kedatangan tamu dari Jepang yang merencanakan akan memberikan bantuan kepada desa setempat dalam memperbaiki Jembatan lama. Jembatan ini diharapkan akan mampu meningkatkan perekonomian untuk warga. Sehingga nantinya di Gunung Saren ini memiliki dua jembatan sebagai penghubung,
Isi acara 3:
Pemerintah Bantul memiliki Program Percepatan Sanitasi Permukinan (PPSP) ini ditujukan untuk daerah yang belum memiliki sanitasi yang baik yang nyata belum terlaksana. Seperti pengolahan limbah sampah berupa padat maupun cair.
Output dari PPSP ini adalah
1. Draf buku putih Sanitasi
Merupakan gambaran sanitasi di kabupaten setempat. Dalam program ini selain kabupaten Bantul yang mengikuti adalah kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunung Kidul.
Prosesnya
· Data dari dinas instasi tentang sanitasi, pemerintah yang terlibat adalah badan pemerintah yang ada hubungannya dengan Sanitasi , meliputi:
a. Dinas Kesehatan
b. DPU
c. Bapeda
d. BKKPPKB
e. Fasilitator DIY
f. Dinas Sosial
g. Badan Lingkungan Hidup
· Kegiatan Study sampel
· Survey atau dasar-dasar studi primer dan sekunder
2. Hasil nyata yang akan terwujud dari kegiatan PPSP adalah SSK untuk 5 tahun program-program prioritas, misal terwujudnya pembuatan IPAL
3. Sebagai upaya membuat Proposal yang akan ditawarkan kepada LSM dari Luar Negeri maupun dalam negeri
Beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan adalah Kondisi, Gejala-gejala,hambatan, keinginan, dan kondisinya seperti apa , kemudian yang diinginkan masyarakat setempat itu apa saja sehingga dapatkan hasil yang bisa dinikmati bersama
Isi diskusi acara ke 4 lain-lain:
a. Warga cerita (wakil dari pengrajin tahu)
- Kegiatan yang sudah terlaksana adalah di Gunung Saren terdapat 1 dukuhnya kira-kira ada 55 pengrajin tahu. Rata-rata memproduksi 50 kg/hari. Kadang ada juga yang menghasilkan tiap harinya 130 kg/ hari namun ada juga yang hanya 30 kg/hari
- Beberapa masalah yang sudah teratasi dan yang belu teratasi adalah:
· Sudah ada 9 unit IPAL yang bisa dimanfatkan juga untuk bahan bakar biogas. IPAL tersebut didapat dari kerjasama dengan LPTP pada tahun 2006 (1 unit), UGM (1 unit),BPK (2 unit), KEMENTRIAN pemerintah Pokja (4 unit), serta SANIMAS (1 unit).
· Aroma ketika memasuki GUNUNG SAREN yang menyengat berasal dari Limbah pembuatan Tahu. Dikarenakan jarak antara Gunung Saren dengan Sungai Progo kurang lebih 1 km dan debit airnya tidak lancar dikarenakan diameter pipa di ujung-ujung hanya berkisar 4dm . sehingga bak kontrolnya meluap dan bau yang tidak sedap akan dirasakan setiap siang harinya.
à Keinginannya adalahmengganti pipa jadi 6 dm atau dibuat sekalian gorong-gorong. Kendala lain yang membuat mampet saluran adalah ketika mengalirkan limbah tahuyang cair tersebut belum terjadi penyaringan sehingga limbah yang padat juga ikut terbuang ke pipa yang mampu menyumbat pipa. Oleh karena itu perlu adanya penyuluhan kepada para pengrajin tahu dalam pengolahan IPAL.
· Kendala lain dari tersumbatnya pipa adalah dikarenakan adanya keusilan masyarakat sendiri yang dengan sengaja menyumbat saluran
· Selain tahu warga setempat jugamemiliki hewan ternak seperti sapi dan kambing. Hampir tiap warga memiliki satu kambing. Namun karena wilayah ini bukan wilayah pertanian maka kotoran hewan tersebut tidak bisa termanfaatkan dengan baik sebagai pupuk. Sudah pernah ada juga dari pihak UGM ingin menjadikannya pupuk organik. Namun hingga sekarang belum terlaksana.
b. Tanggapan dari Pak Hari (wakIl dari BAPEDA BANTUL):
Bantuan yang akan diberikan secara nyata adalah bantuan stimulan kepada masyarakat, serta MBR untuk pemukiman
Ada beberapa perkara tentang Perbaikan Sanitasi adalah :
· Anggaran dari pusat untuk sanitasi masih kecil
Di Kabupaten Bantul dana untuk Sanitasi hanya 2 Milyar
· Kelembagaan instansi yang berhubungan dengan sanitasi belum bekerja secara optimal
· Peraturan yang berhubungan dengan sanitasi masih kurang
· Perilaku masyarakat yang belum sadar akan kebersihan. Seperti masih membuang sampah sembarangan.
Pengolahan samapah ada 3 macam yakni 3R:
Reduce (mengurangi), Recycle (daur ulang), Reuse ( menggunakan kembali)
c. Peran Ibu-ibu (urun rembug )
Bu Basry:
Beliau pembuat rengginang, rumahnya terletak diantara pengrajin tahu. Sehingga ketika ada suatu kebocoran rumahnya jadi bau dan tergenang air limbah.
Bu kasmir
Beliau merupakan pengrajin tahu, beliau sekarang merasa terbantu dengan adanya IPAL BIOGAS itu jadi bisa untuk masak, mengurangi penggunaan gas.
Keterlibatan ibu-ibu dalam masalah ini hanya pada penyediaan konsumsi dan biasanya rutin dilakukan 2 minggu sekali melakukan bersih-bersih jalan. Namun ketika musim hujan kegiatan tersebut jadi jarang dilakukan. Dalam masalah pembuatan IPAL ibu-ibu tidak diajak. Dan yang berdiskusi tentang IPAL kebanyakan hanya dihadiri oleh pengrajin tahu saja.
d. Tambahan dari bapak-bapak:
Tiap pengrajin tahu kira-kira iuran untuk perawatan IPAL sebesar Rp 900.000,00/ bulan. Ini dihitung berdasarkan jumlah produksinya masing-masing.
Survey yang pernah dilakukan di laboratorium bahwa beberapa sumur air bersih sudah tercemar limbah tahu.
Kesimpulan
dari kegiatan Program RTP ini pemerintah dapat mengetahui
Bisa mengetahui berapa banyak masyarakat yang sudah menggunakan MCK
Kebiasaan hideup sehat dari bagamana cara membuang sampah
Kemudian mengetahui kelayakan saluran drainase
Permasalah yang ada dan yang sudah teratasi adalah :
Pencemaran pada sumur dan sudah dicoba untuk diatasi dengan adanya IPAL
Dulunya limbah tahu dibuang dipekaranga sekarang sudah teratur dengan adanya IPAL meskipun belum beroperasi secara optimal
Masing –masing KK diharapkan memiliki KM/WC/MCK yang terbangun.